Introduction

Firman Allah bermaksud,
Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Dia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya dan dia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir. (Surah Al-Baqarah ayat 286)
Showing posts with label The way of life. Show all posts
Showing posts with label The way of life. Show all posts

Friday, 28 October 2011

Melahirkan Generasi Muhammad Al-Fateh dan Berwawasan Hassanah

Saya di sini sekadar ingin berkongsikan ceramah ilmu tentang insan hebat Muhammah Al-Fateh...

Mudah-mudahan.... kita dapat melahirkan generasi yang sehebat beliau dan tentera-tenteranya...
InsyaAllah...







Wassalam

Tuesday, 15 February 2011

Contoh TERbaik



12 Rabbi'ul Awwal tiba lagi, tetapi di dalam tahun yang baru,1432H... Tarikh ini merupakan tarikh kelahiran junjungan mulia kita, Nabi Muhammad Sallahhu A'laihi Wassalam... Contoh terbaik buat kita dari dulu, kini dan selamanya....

Nabi Muhammad (s) bersabda:

La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilayhi min waladihi wa walidihi wan nasi ajma’in wa min nafsihillazi bayna janbayy.

(Kamu belum menjadi orang beriman sampai kamu mencintaiku melebihi cintamu untuk anakmu, cintamu untuk orangtuamu, dan cintamu untuk seluruh umat manusia. Dan cintailah aku melebihi cintamu kepada dirimu sendiri).

Untuk huraian lanjut tentang hadith ini, anda boleh dengar ceramah yang terdapat pada 'link' di bawah ini.

Di sini saya sediakan 'link' kepada ceramah dari Yang Berbahagia Prof Dr Harun Din. Ceramah ilmu dari beliau banyak memberikan impak yang besar kepada diri ini. Dari itu, adalah baik jika saya turut kongsikan ilmu ini kepada anda semua. Moga ianya dapat memberi manfaat kepada pembaca-pembaca sekelian. Dan yang paling penting dapat menambahkan kecintaan dan kerinduan kita kepada Rasulullah Sallallahu A'laihi Wassalam.








Thursday, 30 December 2010

Kerana Allah Ta'ala

Sesungguhnya masih banyak lagi ilmu yang perlu saya pelajari, terutama ilmu yang berkaitan dengan ilmu Al-Qur'an dan hadith. Walaupun Al-Qur'an sering kita baca berulang-ulang kali, tetapi ilmu disebaliknya teramat luas, masih banyak lagi yang belum kita dalami dan selidiki... Belum termasuk lagi hadith-hadith Nabi yang mengandungi ilmu yang begitu banyak... Walaupun tidak sekaligus, saya akan terus cuba memperbaharui ilmu yang sedia ada... hingga ke akhir hayat. Moga Allah sentiasa memberkati diri ini.

Berbalik kepada ilmu hadith, anak sulung saya telah pun diajar oleh seorang Ustaz di sini tentang sebuah hadith. Setiap kali beliau pulang dari kelas mengaji, satu ayat demi satu ayat dihafalnya. Pernah saya bertanya dengan Ustazah dan Ustaz yang mengajar beliau apa makna hadith tersebut. Beliau telah menerangkan bahawa hadith itu menyatakan bahawa segala amalan yang kita lakukan perlulah atas dasar niat yang ikhlas kerana Allah s.w.t.

Dan semalam, saya teringat untuk mencari maklumat lanjut tentang hadith ini dan saya telah berkongsi info ini dengan suami dan anak-anak. Dan kini, dengan pembaca sekelian. Sememangnya hadith ini memberikan impak yang besar pada diri ini. Sebagai contoh, apakah sebenar-benarnya niat kita semasa membuat PhD ini. Adakah ianya benar-benar kerana Allah s.w.t? Atau sekadar untuk menunaikan amanah yang diberikan oleh universiti dan kerajaan? Atau sekadar untuk mengembangkan ilmu untuk tujuan mendidik anak-anak dan adik-adik yang dahagakan ilmu kejuruteraan ini? Atau sekadar untuk mendapatkan anugerah tertentu, pangkat DS52, gelaran Doktor, Prof Madya atau Professor?.... Tepuk dada, tanya niat... Innamal a'malu binniat...

Berikut disertakan hadith yang amat menyentuh jiwa ini. Ditambah dengan terjumpanya sebuah artikel yang amat menarik dibaca dalam menjelaskan dengan lebih lanjut tentang hadith ini. Teruja saya hendak berkongsinya bersama pembaca sekelian...



Innamal a'mallu binniyat
Beramal dengan Ikhlas
By : ansor

Bismillah..Dari Umar bin Khathab Ra. berkata : "Aku telah mendengar rasulullah saw.bersabda : Sesunggunya segala amalan itu tergantung pada niatnya. dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan rasulNya, ia akan sampai pada Allah dan RasulNya.dan barang siapa hijrahnya menuju dunia yang akan di perolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju. (HR : Bukhari & Muslim)

Sungguh luar biasa hadits ini, Kenapa tidak? Karena hadits ini menerangkan tentang keikhlasan seseorang dalam beramal.Dan ini adalah inti dari segala amalan yang kita kerjakan. Apalah artinya beramal yang banyak, kalau tanpa niat karena Allah. walaupun seseorang beramal dengan ilmu yang benar, tetap dimata Allah tidak ada nilainya sama sekali , kalau tanpa di barengi keikhlasan. Yang ada mungkin hanya pujian dari orang lain dan kesombongan pada diri sendiri.

Abu abdullah mengatakan : Tidak ada hadits nabi yang paling banyak mengandung faidah kecuali hadits ini. Begitu juga dengan Imam syafi'i, beliau mengatakan : bawha hadits ini terdapat dalam 70 cabang ilmu agama. Maksudnya, dari hadits yang satu ini bisa masuk kepada 70 cabang ilmu.Innamal a'malu binniyyatai, wa innama likullimri in Maanawa Dua kalimat ini (innamal a'malu binniyyatai dengan wa innama likullimri-in Manawa) seolah olah sama, karena kalau diterjemahkan secarara tekstual, maka kita akan mendapatkan kesamaan arti.

Makanya sebagian ulama ada yang mengatakan, kalimat kedua dalam hadits ini hanyalah sebagai taukid (kalimat penguat) untuk kalimat yang pertama. Dan sebagian ulama lagi mengatakan (dan ini yang paling kuat alasanya) termasuk didalamnya pendapat imam Nawawi dalam kitabnya al-arbain an-nawawi bawha kalimat pertama innamal a'malu binniyat adalah menerangkan bahwa segala amalan itu mesti ada niatnya.

Dan yang dimaksud dengan kalimat wainnama likulimri in maanawa adalah hasil atau buah dari niat atas amalan yang di kerjakanya itu. Kalau kita beramal dengan niat karena Allah, maka keridhaan Allah yang akan kita dapatkan. dan kalau kita beramal dengan niat selain karena Allah, maka kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan itu.

Melalui hadits ini Rasulullah saw. menjelaskan pada kita akan pentingnya -sebuah niat- dalam beribadah pada Allah. Makanya tidak heran kalau imam Bukhari meletakan hadits ini dalam kitab shahih bukhari pada jilid pertama dan pada nomor urutan pertama. Begitu juga dengan Imam Nawawi, dalam kitabnya al-arba'iin an-nawawiyah meletakan hadits ini pada urutan pertama juga.

Niat inilah yang sangat penting untuk senantiasa kita perhatikan setiap kita akan melakukan amalan. Karena hanya dengan niat kita akan mengetahui apakah kita melakukan amalan itu untuk mencari keridhaan Allah ataukah hanya untuk mendapatkan popularitas atau pujian dari manusia??

Seseorang yang "dulu" sangat berarti bagi saya, pernah menasehati..."Niatkanlah segala sesuatu itu karena Allah, karena kalau kita berniat bukan karenaNya maka kecewalah yang akan kita dapat".Subhanallah....! sungguh sangat berarti sekali nasehat ini bagi saya, Apalagi nasehat ini keluar dari mulut seseorang yang saya "cintai" sampai sekarang pun nasehat ini masih saya jaga dan saya laksanakan. Agar saya bisa senantiasa "mentajdid" niat atas amalan yang saya lakukan.Dalam kesempatan ini saya tidak akan panjang lebar menerangkan tentang eksistensi niat, mungkin saya hanya akan memberikan satu hadits yang sangat memperhatikan atas pentingnya niat. Hadits ini sangat luar biasa, dan kita selaku umat Islam harus dengan seksama memperhatikanya, agar kita senantiasa memperbaharui.... memperbaharui... dan memperbaharui niat dalam segala amalan yang kita kerjakan.

Dari Abu Hurairoh RA. Berkata : Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihukum oleh Allah pada hari kiamat, adalah seorang yang mati syahid. Maka didatangkan orang yang syahid itu, dan Allah mengenalkan nikmatnya dan orang yang "Syahid" pun mengenali ni'matnya. Allah berkata :"Apa yang kamu lakukan dengan nikmat itu? dia berkata : "aku berperang di jalanMu sehingga aku mati syahid" Allah berkata :"kamu telah bohong, akan tetapi kamu berperang supaya kamu dikatakan sebagai seorang pemberani. dan kamu telah disebut demikian. kemudian Allah memberikan perintah untuknya, maka ia diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke neraka.Dan seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan seseorang yang membaca al-qur'an. Maka didatangkan orang itu, dan Allah mengenalkan nikmatnya dan diapun mengenali ni'matnya, Allah berkata : "Apa yang kamu lakukan dengan nikmatmu itu?" orang itu berkata :"aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca al-qur'an itu semua kulakukan demiMu, Allah berkata :"kamu telah bohong!, akan tetapi kamu mempelajari ilmu agar orang2 mengatakan bahwa kamu orang yang berilmu dan kamu membaca al-qur'an supaya orang-orang mengatakan bahwa kamu seorang "qaari" dan kamu telah disebut demikian". Kemudian Allah memberikan perintah untuknya, maka ia diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke neraka.Yang ketiga, seseorang yang dilimpahi Allah harta yang banyak dan dia meng-infak-an semua hartanya itu, Maka didatangkan orang itu, dan Allah mengenalkan nikmatnya dan orang itu pun mengenali ni'matnya, Allah berkata : "Apa yang kamu lakukan dengan nikmatmu itu?" dia berkata :"Tidaklah aku meninggalkan satu jalan yang kamu cintai untuk mengnginfakan harta kecuali aku berinfak pada jalan itu hanya karenaMu. Allah berkata :" kamu telah bohong!, akan tetapi kamu melakukan itu supaya kamu dikatakan sebagai seorang dermawan, dan kamu telah disebut demikian. kemudian Allah memberikan perintah untuknya, maka ia diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke neraka.(HR. Muslim)

Melihat redaksi hadits ini kita jadi tahu, ternyata untuk menumbuhkan niat yang ikhlas atas segala amalan yang kita lakukan ini sangatlah susah, Muawiyah bin abi sofyan saja, Mendengar hadits ini langsung menangis dan pingsan. Nah...dari sinilah kita diperintahkan agar senantiasa "tajdidunniah" memperbaharui...memperbaharui...dan senantiasa memperbaharui niat atas segala amalan yang kita lakukan.Niatkanlah segala amalan kita ini hanya karena Allah! niscaya kita akan mendapat pahala disisiNya, ikhlaskanlah segala amalan kita agar kita mendapat keridhanya.Beramal dengan ikhlas adalah...BUKAN INGIN DI PUJI BUKAN PULA TAKUT DI BENCI, tapi kita beramal hanya untuk mendapat pahala dan keridhan Allah swt. Wallahu a'lam.


Artikel ini telah diambil di sini.

Rasa takut diri ini bila memikirkan jawapan yang akan diberikan kepada Allah jika ditanya kelak. Sesungguhnya saya memohon ampun dariMu Ya Allah terhadap niat-niat yang tidak sepatutnya ada di dalam hati ini dalam menuntut ilmu ini Ya Allah... Ya Allah, lindungilah diri ini dari berniat sesuatu yang bukan kerana Mu... Sesungguhnya keredhaan dariMu adalah Yang Paling UTAMA yang diri ini dambakan...Ameeenn...

Tuesday, 2 November 2010

"Lifelong Learning": Restu Allah, Restu Suami, Restu Ibu

Alhamdulillah...

Saya memanjatkan kesyukuran kepada Allah... kerana dengan izinNya.. dapat saya berkongsi dengan rakan-rakan sekelian ilmu dalam bentuk ceramah motivasi yang disampaikan oleh Yang Berbahagia Puan Hajah Noor Zaitun Yahya, pelajar PhD dan juga pelajar Malaysia pertama yang menerima Queen's Award. Boleh baca berita lanjut di sini.

Terima kasih yang tidak terhingga kepada persatuan LUMS dan MSM di atas segala usaha yang diberikan untuk menjayakan program ini.

Antara initipati yang disampaikan oleh beliau adalah berkaitan dengan cara penyesuaian diri yang perlu dihadapi oleh pelajar-pelajar Malaysia yang masih baru di UK. Terutama untuk adik-adik tahun satu. Mereka perlu cepat mengadaptasikan diri mereka dengan keadaan sekeliling dan juga sistem pembelajaran (di sini) yang agak berlainan dengan sistem di Malaysia. Ini amat perlu bagi memastikan mereka berjaya dalam pelajaran mereka.

Selain itu, kata-kata nasihat dan perkongsian pengalaman tentang bagaimana beliau telah dipilih sebagai penerima award di kalangan 40 pelajar PhD lain di dalam bidang beliau, turut dikongsi.

Alhamdulillah, ceramah beliau untuk program ini telah direcord oleh suami beliau. Dan dengan ini, ilmu yang beliau sampaikan dapat dikongsikan kepada rakan-rakan semua. Dengarkanlah dan hayatilah....









Sekian.. Wassalammm

Wednesday, 27 October 2010

Cabaran antara Manusia dan Alam

Petikan dari Surah Isra ayat 12 hingga ayat 17.

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

وَجَعَلۡنَا ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّہَارَ ءَايَتَيۡنِ‌ۖ فَمَحَوۡنَآ ءَايَةَ ٱلَّيۡلِ وَجَعَلۡنَآ ءَايَةَ ٱلنَّہَارِ مُبۡصِرَةً۬ لِّتَبۡتَغُواْ فَضۡلاً۬ مِّن رَّبِّكُمۡ وَلِتَعۡلَمُواْ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلۡحِسَابَ‌ۚ وَڪُلَّ شَىۡءٍ۬ فَصَّلۡنَـٰهُ تَفۡصِيلاً۬ (١٢) وَكُلَّ إِنسَـٰنٍ أَلۡزَمۡنَـٰهُ طَـٰٓٮِٕرَهُ ۥ فِى عُنُقِهِۦ‌ۖ وَنُخۡرِجُ لَهُ ۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ ڪِتَـٰبً۬ا يَلۡقَٮٰهُ مَنشُورًا (١٣) ٱقۡرَأۡ كِتَـٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبً۬ا (١٤) مَّنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَہۡتَدِى لِنَفۡسِهِۦ‌ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡہَا‌ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ۬ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ‌ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولاً۬ (١٥)

Maknanya:

Dan Kami jadikan malam dan siang itu dua tanda (yang membuktikan kekuasaan kami), maka Kami hapuskan tanda malam itu (sehingga menjadi gelap-gelita), dan Kami jadikan tanda siang itu terang-benderang supaya kamu mudah mencari rezeki dari limpah kurnia Tuhan kamu dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hitungan hisab (bulan dan hari) dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu (yang kamu perlukan untuk dunia dan agama kamu), Kami telah menerangkannya satu persatu (dalam Al-Quran) dengan sejelas-jelasnya. (12) Dan tiap-tiap seorang manusia Kami kalongkan bahagian nasibnya di lehernya dan pada hari kiamat kelak Kami akan keluarkan kepadanya kitab (suratan amalnya) yang akan didapatinya terbuka (untuk di tatapnya). (13) (Lalu Kami perintahkan kepadanya): Bacalah Kitab (suratan amalmu), cukuplah engkau sendiri pada hari ini menjadi penghitung terhadap dirimu (tentang segala yang telah engkau lakukan). (14) Sesiapa yang beroleh hidayat petunjuk (menurut panduan Al-Quran), maka sesungguhnya faedah petunjuk yang didapatinya itu hanya terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang sesat maka sesungguhnya kesan buruk kesesatannya hanya ditanggung oleh dirinya juga dan seseorang yang boleh memikul, tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja) dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah). (15)


Alhamdulillah, tazkirah online pada 20/10/2010 telah dapat di'record' dengan jayanya. Tazkirah yang disampaikan oleh Al-Fadil Ustaz Izzam membicarakan mengenai cabaran antara manusia dan alam. Tazkirah ini terbahagi kepada 14 bahagian. Ini kerana terdapat kesilapan dari pihak editor (iaitu saya) yang masih agak baru dengan cara upload audio/video ke youtube. Mohon maaf atas sebarang kesulitan.

Di sini saya kongsikan ilmu yang bermanfaat kepada pembaca-pambaca sekelian... Mudah-mudahan ianya akan menjadi ingatan dan panduan kepada kita dalam menguruskan alam dan kehidupan kita.

Bahagian 1



Bahagian 2



Bahagian 3



Bahagian 4



Bahagian 5



Bahagian 6



Bahagian 7



Bahagian 8



Bahagian 9



Bahagian 10



Bahagian 11



Bahagian 12



Bahagian 13



Bahagian 14



Sebahagian gambar-gambar yang terdapat dalam video di atas adalah pemandangan yang diambil sewaktu kami di Switzerland dan Vennice, Italy. Teramat indah alam ciptaan Allah... Alhamdulillah...

Sekian... Moga perkongsian ilmu ini dapat memberi manfaat kepada semua...Wassalam..

Monday, 18 October 2010

Cabaran buat Umat Islam di Palestine...

Ketika mendengar satu tazkirah baru-baru ini berkaitan dengan tafsiran Surah Al-Isra', hati ini tiba-tiba berasa sayu... dan bersalah... mendengar dan cuba membayangkan keadaan umat Islam di Palestine.

Satu demi satu, ayat demi ayat dalam Surah Al-Isra' ditafsirkan dengan begitu teliti oleh Al-Fadhil Ustaz Izzam. Menerangkan bagaimana kaum Yahudi yang sering menindas umat Islam sejak dari dahulu lagi sehinggalah ke era ini. Walaubagaimanapun, Allah telah menerangkan dengan jelas di dalam Surah ini... Bahawa pada suatu ketika nanti, umat Islam di Palestine pastinya akan bebas dan meraih kemenangan.

Di sini saya sertakan makna ayat-ayat dalam Surah Al-Isra' bermula dari ayat pertama hingga ayat kelima.

Al-Isra
Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani

Maha Suci Allah yang telah menjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam (di Mekah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. (1) Dan Kami telah memberikan Nabi Musa Kitab Taurat dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (serta Kami perintahkan mereka): Janganlah kamu jadikan yang lain daripadaKu sebagai Tuhan (untuk menyerahkan urusan kamu kepadanya). (2) (Wahai) keturunan orang-orang yang telah Kami bawa bersama-sama dengan Nabi Nuh (di dalam bahtera)! Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang bersyukur. (3) Dan Kami menyatakan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan melakukan kerosakan di bumi (Palestin) dua kali dan sesungguhnya kamu akan berlaku sombong angkuh dengan melampau. (4) Maka apabila sampai masa janji (membalas kederhakaan kamu) kali yang pertama dari dua (kederhakaan) itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang kuat gagah dan amat ganas serangannya lalu mereka menjelajah di segala ceruk rantau (membunuh dan membinasakan kamu) dan (sebenarnya peristiwa itu) adalah satu janji yang tetap berlaku. (5)

Apakah yang boleh kita lakukan?

Kita berada nun jauh dari negara Palestine, Afghanistan, Pakistan dan negara-negara Islam lain yang sering berhadapan dengan ujian peperangan, kelaparan, kesusahan dan masalah-masalah lain. Hanya berita-berita di website dan media-media elektronik sahaja yang memberitahu kita status terkini dan situasi mereka di sana. Namun, kemungkinan terdapatnya unsur propaganda dalam berita yang disampaikan pasti tidak dapat dielakkan.

Walauapapun, yang pasti, rakyat Palestin termasuk kanak-kanak dan wanita, turut berjuang memepertahankan tahanair mereka. Cukup jelas kita lihat di wajah mereka penderitaan dan keperitan yang mereka tanggung dari kezaliman tentera-tentera Israel. Anak-anak kehilangan ibu bapa mereka dan nasib wanita yang tidak terbela, semuanya akibat sikap rakus Israel. Apa yang boleh kita lakukan? Menurut Ustaz Izzam, antara perkara-perkara yang boleh kita lakukan ialah:

1) Berdoa dan terus berdoa kepada Allah agar diselamatkan negara Palestine dan rakyat-rakyatnya dari pihak-pihak yang zalim.

2) Hulurkan bantuan kewangan kepada mereka agar dapat membantu pembiayaan rawatan/perubatan kepada mangsa-mangsa yang tercedera, membela nasib kanak-kanak dan wanita dari segi makanan, tempat tinggal dan pakaian.



Berikutan ini, Alhamdulillah kumpulan adik-adik undergrad dari University of Leicester akan menganjurkan suatu majlis yang dinamakan Night of Palestine yang diadakan pada 30th Oktober 2010 di Leicester. Program ini merupakan salah satu projek-projek Misi Kasih Palestin MSM yang akan menyalurkan semua hasil derma 100% ke Palestine. Sungguh murni hati pengusaha-pengusaha program ini. Moga Allah memberikan ganjaran yang paling baik buat mereka.

InsyaAllah dengan projek-projek seperti ini, sedikit sebanyak kita dapat meringankan beban yang ditanggung oleh umat Islam di Palestine. Mudah-mudahan peperangan ini akan berakhir dengan majoriti kemenangan di pihak umat Islam. Ya Allah makbulkan semua doa dan permintaan umat Islam... Ameen

Akhir kata, dengarkanlah sebuah puisi yang cuba mengupas suara hati seorang kanak-kanak lelaki di bumi Palestine...

Friday, 8 October 2010

Cabaran Dalam Menjaga Adab-Adab Menuntut Ilmu

Mencari ilmu merupakan suatu perkara yang menjadi tuntutan di dalam agama Islam. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya wajib, baik yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis Nabi Saw. mahupun dari fatwa ulama. Alhamdulillah, kali ini saya kongsikan beberapa adab-adab dalam menuntut ilmu agama yang diambil dari petikan di sini.

Adab 1: Ikhlas dalam menuntut ilmu.

Sepertimana amalan-amalan yang lain, langkah yang pertama adalah keikhlasan diri. Langkah ini merupakan faktor yang amat penting sehinggakan Rasulullah telah memberi amaran:

“Sesiapa yang mempelajari satu ilmu yang sepatutnya dilakukan kerana mencari Wajah Allah, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia tidak akan mencium bau syurga pada Hari Kiamat.”

[Maksud hadis riwayat Ibn Hibban dan ia dinilai sahih oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam semakannya ke atas Shahih Ibn Hibban (Muassasah al-Risalah, Beirut, 1997), hadis no: 78].

Oleh kerana itu dalam sebuah hadis yang lain, baginda mengingatkan:

“Jangan mempelajari ilmu untuk berbangga-bangga di hadapan para ulama’, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk memilih majlis yang terbaik (demi mendapat pujian orang). Sesiapa melakukan hal itu maka nerakalah tempatnya.”

[Maksud hadis riwayat Ibn Hibban dengan para perawi yang dipercayai lagi sahih, demikian terang Syu’aib al-Arna’uth dalam semakannya ke atas Shahih Ibn Hibban, hadis no: 77].

Justeru orang yang ingin memahami agama perlu membetulkan niat dan tujuannya. Hendaklah dia melakukannya kerana:

1. Ingin memperbaiki diri dalam mentauhidkan Allah sebagai merealisasikan bahagian pertama syahdah: “La ilaha illallah”.
2. Ingin memperbaiki diri dalam mengamalkan sunnah Rasulullah sebagai merealisasikan bahagian kedua
syahdah: “Wa anna Muhammad Rasulullah”.
3. Ingin memperbaiki keadaan umat Islam sebagai merealisasikan tuntutan amar ma’ruf dan nahi mungkar yang
merupakan salah satu tuntutan asas agama.
4. Ingin membela agama Islam daripada fitnah musuh-musuhnya seperti para orientalis dan para pencipta bid’ah.

Sesiapa yang memiliki niat dan tujuan yang betul sepertimana di atas, dia tidak sekali-kali akan terkalah dengan pelbagai cubaan dan fitnah yang mungkin dihadapinya dalam rangka memahami agama Islam. Ini kerana:“Wahai orang-orang yang beriman, kalau kamu membela (agama) Allah nescaya Allah membela kamu dan meneguhkan tapak pendirian kamu.”[Maksud surah Muhammad, ayat 7]

Adab 2: Positif dan Yakin kepada diri sendiri.

Sikap yang positif dan keyakinan diri adalah faktor yang penting untuk mencapai sesuatu tujuan. Faktor ini tidak terpisah bagi sesiapa yang ingin memahami agama yang dicintai ini. Bahkan ketahuilah bahawa sesiapa yang berusaha dengan ikhlas untuk tujuan ini, maka Allah akan membimbingnya, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud:

“Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami; dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya.” [al-Ankabut, ayat 69]

“Pimpinan” Allah boleh wujud dalam pelbagai bentuk, seperti dipertemukan dengan guru yang benar, ditunjuki kepada buku daripada penulis yang jujur, dipersahabatkan dengan orang-orang yang shalih, dibimbing kepada subjek-subjek yang mengikut tertib kepentingannya dan ditanam dalam dirinya akhlak yang mulia apabila berinteraksi dengan ilmu agama. Oleh itu janganlah merasa ragu-ragu atau rendah diri untuk berusaha memahami agama Islam. Yakinilah bahawa Allah akan memimpinnya selagi mana dia ikhlas dan bersungguh-sungguh.

Adab 3: Bersiap sedia untuk melakukan pengorbanan.

Tidak ada jalan pintas (short cut) untuk memahami agama Islam, maka janganlah mengharapkan kefahaman dalam agama secara serta merta atau melalui jalan yang mudah. Sebaliknya hendaklah bersiap sedia untuk melakukan banyak pengorbanan dari sudut tenaga, masa, kewangan dan kehidupan. Proses menuntut ilmu sememangnya memerlukan banyak pengorbanan dan hal ini diketahui oleh Rasulullah. Oleh itu baginda menjanjikan ganjaran yang besar kepada sesiapa yang melakukan pengorbanan tersebut dengan bersabda, maksudnya:

“Sesiapa yang menempuh satu jalan kerana mencari ilmu,maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga.”
[Riwayat Muslim dalam Shahihnya (penomboran Fu’ad Abd al-Baqi), hadis no: 2699].

Pengorbanan dari sudut tenaga dan masa adalah berusaha untuk ke kelas-kelas pengajian agama sekalipun kesibukan atau keletihan dengan kuliah di universiti atau kerja di pejabat. Pengorbanan kewangan adalah membelanjakan wang ringgit untuk membeli buku-buku agama yang berkualiti. Ini adalah pengorbanan yang tidak boleh ditinggalkan, dimana setiap yang ingin memahami agama Islam perlu mencintai buku dan berusaha membina koleksi buku-buku agama atau perpustakaan peribadi yang tersendiri.

Namun di antara semua pengorbanan, yang terbesar adalah pengubahsuaian gaya hidup. Tidur perlu dikurangkan, gizi pemakanan perlu dijaga dan aktiviti harian yang sia-sia perlu dihindari. Sedar atau tidak, terdapat banyak aktiviti harian yang sebenarnya adalah sia-sia seperti mengikuti acara sukan, membaca akhbar harian, menonton televisyen dan berbual kosong. Semua ini hendaklah diubah kepada bersukan demi menjaga kesihatan, menelaah akhbar harian sekadar mencari laporan yang bermanfaat, menghadkan tontonan televisyen kepada dokumentari yang ilmiah dan berbual sekadar menyampaikan nasihat. Pengubahsuaian ini akan membuka banyak masa lapang yang dapat dimanfaatkan untuk memahami agama Islam.

Adab 4: Tidak mengenal titik noktah.

Semua orang yang melazimkan diri berinteraksi dengan ilmu akan mengetahui bahawa ia sentiasa dinamik tanpa mengenal titik noktah. Maka demikianlah juga seharusnya sikap setiap muslimin dan muslimah yang ingin mencari kefahaman agama. Tidak boleh berkata “Saya sudah habis belajar agama” atau “Saya sudah faham Islam”. Sebaliknya hendaklah sentiasa mengkaji dan menganalisa kerana ilmu agama juga adalah sentiasa dinamik. Bak kata pepatah:

“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad.”

Perhatikan doa yang diajar oleh Allah kepada Rasulullah, yang bermaksud:

Dan berdoalah dengan berkata: “Wahai Tuhanku, tambahilah ilmuku”. [Ta-Ha, ayat 114]

Perkataan “tambahilah” menunjukkan ilmu itu tidak mengenal batas maksimum, sebaliknya sentiasa dinamik sehingga boleh bertambah dan bertambah.

Memiliki manhaj yang dinamik dalam rangka memahami agama setidak-tidaknya memiliki kepentingan dari dua sudut:

Pertama: Pada masa kini terdapat banyak ajaran yang menyeleweng, setiap darinya berselindung di sebalik slogan “Ahli Sunnah Wal Jamaah” agar kelihatan berada di atas jalan yang benar. Seandainya seseorang itu tergelincir dalam salah satu daripada ajaran yang menyeleweng, sikap dinamiknya yang sentiasa mengkaji dan menganalisa akan mengeluarkan dirinya daripada ajaran tersebut kepada ajaran yang benar.

Kedua: Seseorang yang berusaha memahami agama akan melalui beberapa tahap, daripada tahap kebudak-budakan sehinggalah kepada tahap kedewasaan. Ini kerana dalam rangka melakukan kajian, dia akan menemui banyak perkara baru yang tidak pernah diketahuinya sebelum itu. Penemuan ini akan menjana semangat baru dalam dirinya. Terdapat kemungkinan yang besar semangat tersebut akan mengarah dirinya kepada sikap merasa dirinya amat berilmu (ujub), memandang rendah para ulama’ dan mudah menghukum orang yang tidak sependapat dengannya. Inilah sikap kebudak-budakan yang saya maksudkan.

Di sini manhaj dinamik amatlah perlu dimana sikap yang sentiasa mengkaji dan menganalisa akan mengalih seseorang itu dari tahap kebudakan-budakan ke tahap kedewasaan. Tahap kedewasaan akan mengarah kepada sikap merendah diri berdasarkan keinsafan bahawa ilmu agama sebenarnya amat luas, sikap menghormati para ‘ulama berdasarkan kesedaran bahawa terdapat banyak faktor lain yang mereka pertimbangkan dan terbuka kepada dialog berdasarkan mata yang celik kepada hakikat berbeza pendapat adalah fitrah manusia.

Adab 5: Mengamalkan ilmu.

Usaha untuk memahami agama Islam bukanlah sekadar class room discussion, akan tetapi ia adalah untuk diamalkan. Ilmu tanpa amalan adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah sebagaimana firman-Nya yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu memperkatakan apa yang kamu tidak melakukannya! Amat besar kebenciannya di sisi Allah - kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya.” [al-Saff, ayat 2-3]

Malah ia adalah faktor yang boleh menyebabkan hati menjadi keras sehingga tidak dapat lagi menerima apa-apa manfaat daripada ilmu. Firman Allah:

“Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran Allah serta mematuhi kebenaran (Al-Quran) yang diturunkan (kepada mereka)? Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Kitab sebelum mereka, setelah orang-orang itu melalui masa yang lanjut maka hati mereka menjadi keras, dan banyak di antaranya orang-orang yang fasik - derhaka.” [Maksud surah al-Hadid, ayat 16]

Sebaliknya orang yang mengamalkan ilmunya akan ditambahi oleh Allah dengan ilmu dalam pelbagai bentuk. Orang yang berusaha memahami agama Islam akan meningkat keimanannya dan iman itu sendiri adalah apa yang dibuktikan dengan hati, lidah dan perbuatan. Keimanan seperti ini akan ditambahi oleh Allah dengan hidayah-Nya, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud:

“……sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahi mereka dengan hidayah.” [Maksud surah al-Kahf, ayat 13]

Orang yang mengamalkan ilmu juga bererti mengamalkan hidayah yang Allah kurniakan kepadanya. Dengan itu Allah akan menambah hidayah tersebut sebagaimana firman-Nya yang bermaksud:

“Dan orang-orang yang menerima hidayah, Allah menambahi mereka dengan hidayah, serta memberi kepada mereka (dorongan) untuk mereka bertaqwa.” [Muhammad, ayat 17] “Dan Allah akan menambahi hidayah petunjuk bagi orang-orang yang menurut jalan petunjuk.” [Maryam, ayat 76]

Orang yang mengamalkan ilmu juga bererti meningkatkan ketaqwaannya, maka dengan itu Allah akan mengurniakan kepadanya al-Furqan yang membolehkan dia membezakan antara yang benar dan batil. Allah akan juga menambahi Rahmat-Nya dan memberikannya cahaya untuk terus berada di atas jalan yang benar. Perhatikan dua firman Allah berikut yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allah, nescaya Dia mengadakan bagi kamu (al-Furqan) yang membezakan antara yang benar dengan yang salah, dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu, serta mengampunkan (dosa-dosa) kamu. Dan Allah (sememangnya) mempunyai limpah kurnia yang besar.” [al-Anfal, ayat 29]

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan tetaplah beriman kepada Rasul-Nya (Muhammad), supaya Allah memberi kepada kamu dua bahagian dari rahmatNya, dan menjadikan bagi kamu cahaya untuk kamu berjalan dengannya, serta diampunkannya dosa kamu; dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” [al-Hadid, ayat 28]

Adab 6: Berhubung dengan orang yang berhubung dengan ilmu.

Siapa kita berhubung, siapa kita berkawan, memiliki pengaruh yang besar kepada perwatakan diri kita sendiri. Rasulullah pernah mengingatkan, maksudnya:“Sesungguhnya perumpamaan teman yang soleh dan teman yang buruk hanyalah seumpama pembawa minyak wangi dan peniup tungku api seorang tukang besi. Bagi pembawa minyak wangi, boleh jadi sama ada dia memberinya kepada kamu (minyak wangi) atau kamu membeli daripadanya (minyak wangi) atau kamu mendapat bau harum daripadanya. Bagi peniup tungku api seorang tukang besi, boleh jadi sama ada ia akan membakar pakaian kamu (kerana kesan tiupan api) atau kamu mendapat bau yang tidak sedap daripadanya (bau besi).” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2628].

Oleh itu sesiapa yang berusaha untuk memahami agama Islam hendaklah sentiasa berhubung dengan orang-orang yang perhubungannya sentiasa bersama ilmu. Mereka adalah orang-orang yang perhatiannya sentiasa kepada al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih, usahanya sentiasa kepada mengkaji kitab-kitab peninggalan para ulama’ dan pemikirannya sentiasa ke arah memperbaiki keadaan umat Islam dan menjaga kemurnian agama Islam.

Di antara mereka ialah para alim ulama’ dan guru-guru, maka hendaklah memuliakan mereka, mendengar nasihat mereka dan mengikuti jejak langkah mereka. Seandainya mereka berbuat salah, hendaklah menasihati mereka secara sopan dan tersembunyi, tidak secara kasar dan terbuka kepada orang ramai. Di antara mereka adalah orang-orang yang dalam proses memahami agama Islam, maka hendaklah menjadikan mereka sebagai sahabat karib, selalu meluangkan masa berkongsi ilmu, bertukar-tukar pendapat dan saling menasihati.

Adab 7: Berdoa Kepada Allah.

Setiap usaha perlu diikuti dengan doa dan usaha untuk memahami agama Islam tidak terpisah daripada adab ini. Maka hendaklah berdoa kepada Allah dan sebaik-baik doa adalah apa yang diajar oleh Allah dan Rasul-Nya. Antaranya:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.” [Maksud surah al-Fatihah, ayat 6-7]


رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.

“Wahai Tuhanku, tambahilah ilmuku”. [Ta-Ha, ayat 114]


رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا.


“Wahai Tuhan kami! Kurniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, dan berilah kemudahan-kemudahan serta pimpinan kepada kami untuk keselamatan agama kami.”

[al-Kahf, ayat 10]


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

“Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau memesongkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada kami limpah rahmat dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkau jualah Tuhan Yang melimpah-limpah pemberian-Nya.”

[Ali Imran, ayat 8]


اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ


تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ

تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.


“Ya Allah, Tuhan Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil, Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan yang Maha Mengetahui semua yang ghaib dan nyata. Engkaulah yang akan menghakimi para hamba-Mu mengenai apa sahaja yang mereka perselisihkan. Dengan izin-Mu berilah aku petunjuk memilih kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan. Engkaulah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

[Shahih Muslim, hadis no: 77].

Ya Allah, peliharalah diriku, suamiku dan anak-anakku akan dalam menjaga adab-adab dalam menuntut ilmuMu yang amat luas ini... Berkati dan rahmatilah segala ilmu yang kami pelajari serta berikanlah kami kejayaan di dunia dan di akhirat... Ameen...

Tuesday, 21 September 2010

Tazkirah Ukhuwwah, Ziarah dan Raya

Alhamdulillah... di sini saya uploadkan satu ceramah yang mempunyai pengisian yang cukup baik terutama dalam menjaga hubungan baik sesama rakan-rakan kita dalam masyarakat. Ceramah ini disampaikan oleh Al-Fadhil Ustaz Zaharuddin Abd Rahman pada 10 Shawwal 1431H yang lalu. Marilah sama-sama kita hayati dan dengar isi ceramah ini dengan baik. Moga ianya dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan seharian kita.

Bahagian Pertama



Bahagian kedua



Bahagian ketiga



Bahagian terakhir



Ya Allah, Moga Engkau rahmati ukhuwahku bersama-sama rakan-rakan PhD dan masyarakat disekelilingku. Engkau berikanlah petunjuk kepadaku dalam menjaga hubungan ini. Jauhkan dari perasaan hasad dengki. Lindungi diriku ini (secara sengaja atau tidak sengaja) dari menyakiti hati teman-teman. Dan lindungilah diriku dari mudah terasa hati dengan kata-kata dan tingkahlaku mereka. Bantulah diriku dalam memelihara persaudaraan dan ukhuwah kami... Moga diri ini dapat memiliki sifat kesabaran dan keikhlasan yang hakiki...Ameen

Wednesday, 1 September 2010

Muslims Dictionary

Every Muslim should remember these essential expressions.

Note: Spellings may vary when translated to English

These expressions are mostly singular. For example to say ‘Jazak(i) Allahu Khair” to more than one person you would ‘Jazakum Allahu Khairan’ and to say ‘Barak Allahu feek(i)” to more than one person is “Barak Allahu Feekum”

e.g.

Masculine: Jazak Allahu Khair
Feminine: Jazaki Allahu Khair
Plural: Jazakum Allahu Khair

It is fine to speak in the masculine tense when speaking to women formally.

Say/When/Translation

Assalamu ‘Alaikum
-- when you meet a muslim
Translation: Peace be upon you

Wa’alaikum Assalam
-- a Muslim greets you
Translation: And peace be upon you

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
-- formal and great greeting to a Muslim
Translation: May the peace, mercy, and blessings of Allah be upon you

Wa’alaikum assalam wa rahmatullahi wa barakatuh
-- a Muslim greets you
Translation: And peace and mercy and blessings of Allah be upon you

Hiyyak Allah
-- When greeting someone after Salaams
Translation: May Allah greet you (lit. May Allah preserve your life)

Bismillah arRahman arRahim
-- before making a beginning
Translation: In the name of Allah, most Gracious most Merciful

Jazak Allah Khairan
-- for expression of thanks
Translation: May Allah reward you with blessings
(Reply: Wa iyak(i), wa iyakum; Trans. And you)

BarakAllahu feekum or Allah baraka feek(i)
-- responding to someone’s thanks/ a way of expressing thanks
Translation: May Allah bless you
(Reply: Wa feek(i), Wa feekum; Trans.: And you)

Fi Amanillah
-- by way of saying good-bye
Translation: May Allah protect you

Subhanallah
-- for praising something
Translation: Glory be to Allah

Insha Allah
-- for expressing a desire to do something
Translation: If Allah wills/Through Allah’s will

Astaghfirullah
-- Repenting for sins before Allah
Translation: I beg Allah for forgiveness

Masha Allah
-- for expressing appreciation of something good
Translation: As Allah has willed/Praise be to Allah

Alhamdulillah
-- for showing gratitude to Allah after success or even after completing anything
Translation: Thanks be to Allah

Ameen
-- the end of a Dua or prayer
Translation: May it be so

Sallahu ‘alayhi wa salaam
-- whenever say the name of Prophet Muhammad
Translation: Peace be upon him (S.A.W.)

‘Alayhi salaam
-- whenever say the name of a prophet
Translation: Peace be upon him (A.S.)

Radi Allah ‘Anhu
-- whenever say name of male companion of the Prophet (Sahabi)
Translation: May Allah be pleased with him (R.A.)

Radi Allah ‘Anha
-- whenever say name of female companion of the Prophet
Translation: May Allah be pleased with her (R.A.)

Radi Allah ‘Anhum
-- Plural form of saying companions of the Prophet
Translation: May Allah be pleased with them (R.A.)

Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’oon
-- this is uttered as an expression upon hearing the news of some loss or some one’s death
Translation: To Allah we belong and to Him is our return

aathama allahu ajrakom
-- uttered to family of deceased
Translation: may Allah make your ajer (reward) great

Shakar Allahu Sa’yikum
-- uttered to people who attend aaza – when friends go to send condolences upon death of a person
Translation: May Allah accept that your effort

La hawla wala quwata illah billah
-- during the time of troubles
Translation: There is no strength nor power except Allah

_________________

A few more:

Tawakkal-tu-’ala-Allah- I have put my trust in Allah-rely on Allah solving a problem

Tawkkalna-’ala-Allah – we have put our trust in Allah – waiting for a problem to be solved

Rahimahullah – Allah have Mercy on him – you see someone in distress

Na’uzhu-bi-Allah - we seek refuge in Allah – showing your dislike

Fi sabeel illah – in/for Allah’s cause/way – you give charity/help people

Ittaqillah-fear Allah- you see someone doing a bad deed

Hayyak Allah - Allah maintain your life – you greet someone

Hasbi Allah – Allah will suffice me – you are in a difficult situation

Azhak Allah sinnaka - May Allah keep you cheerful – you seek another Muslim with cheerful countenance

____________________

A

AL-HAMDU LILLAHI RABBIL ‘ALAMIN
This is a verse from the Qur’an that Muslims recite and say many times per day. Other than being recited daily during prayers, a Muslim reads this expression in every activity of his daily life. The meaning of it is: “Praise be to Allah, the Lord of the worlds.”

A Muslim invokes the praises of Allah before he does his daily work; and when he finishes, he thanks Allah for His favors. A Muslim is grateful to Allah for all His blessings. It is a statement of thanks, appreciation, and gratitude from the creature to his Creator.

ALLAHU AKBAR
This statement is said by Muslims numerous times. During the call for prayer, during prayer, when they are happy, and wish to express their approval of what they hear, when they slaughter an animal, and when they want to praise a speaker, Muslims do say this expression of Allahu Akbar. Actually it is most said expression in the world. It’s meaning: “Allah is the Greatest.” Muslims praise Allah in every aspect of life; and as such they say Allahu Akbar.

ASSALAMU ALAIKUM
This is an expression Muslims say whenever they meet one another. It is a statement of greeting with peace. The meaning of it is: “Peace be upon you.”

Muslims try to establish peace on earth even through the friendly relation of greeting and meeting one another.

The other forms are: “Assalamu ‘Alalikum Wa Rahmatullah,” which means:”May the peace and the Mercy of Allah be upon you,” and “Assalamu Alalikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh,” which means:”May the peace, the mercy, and the blessings of Allah be upon you.”

ASTAGHFIRULLAH
This is an expression used by a Muslim when he wants to ask Allah forgiveness. The meaning of it is: “I ask Allah forgiveness.” A Muslim says this phrase many times, even when he is talking to another person. When a Muslim abstains from doing wrong, or even when he wants to prove that he is innocent of an incident he uses this expression. After every Salah (payer), a Muslim says this statement three times.

A’UDHU BILLAHI MINASHAYTAN IRAJEEM
This is an expression and a statement that Muslims have to recite before reading to Qur’an, before speaking, before doing any work, before making a supplication, before taking ablution, before entering the wash room, and before doing many other daily activities. The meaning of this phrase is: “I seek refuge from Allah from the outcast Satan.” Allah is the Arabic name of God.

Satan is the source of evil and he always tries to misguide and mislead people. The Qur’an states that Satan is not an angel but a member of the Jinn, which are spiritual beings created by Allah. So the belief that Satan is a fallen angel is rejected in Islam.

B

BARAKALLAH

This is an expression, which means: “May the blessings of Allah (be upon you).” When a Muslim wants to thank to another person, he uses different statements to express his thanks, appreciation, and gratitude. One of them is to say “Baraka Allah.”

BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
This is a phrase from the Qur’an that is recited before reading the Qur’an. It is to be read immediately after one reads the phrase: “A’uzu Billahi Minashaitanir Rajim.”

This phrase is also recited before doing any daily activity. The meaning of it is: “In the name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.”

I

IN SHA’ ALLAH
When a person wishes to plan for the future, when he promises, when he makes resolutions, and when he makes a pledge, he makes them with permission and the will of Allah. For this reason, a Muslim uses the Qur’anic instructions by saying “In Sha ‘ Allah.” The meaning of this statement is: “If Allah wills.” Muslims are to strive hard and to put their trusts with Allah. They leave the results in the hands of Allah.

INNA LILLAHI WA INNA ILAHI RAJI’UN
When a Muslim is struck with a calamity, when he loses one of his loved ones, or when he has gone bankrupt, he should be patient and say this statement, the meaning of which is: “We are from Allah and to whom we are returning.”

Muslims believe that Allah is the One who gives and it is He takes away. He is testing us. Hence, a Muslim submits himself to Allah. He is grateful and thankful to Allah for whatever he gets. On the other hand, he is patient and says this expression in times of turmoil and calamity.

J

JAZAKALLAHU KHAYRAN

This is a statement of thanks and appreciation to be said to the person who does a favor. Instead of saying “thanks” (Shukran), the Islamic statement of thanks is to say this phrase. It’s meaning is: ” May Allah reward you for the good.”

It is understood that human beings can’t repay one another enough. Hence, it is better to request Almighty Allah to reward the person who did a favor and to give him the best.

K

KALAM

Talk or speech as in “kalamu Allah”; has also been used through the ages to mean logic or philosophy.

L

LA HAWLA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH

The meaning of this expression is: ” There is no power and no strength save in Allah.” This expression is read by a Muslim when he is struck by a calamity, or is taken over by a situation beyond his control. A Muslim puts his trust in the hands of Allah, and submits himself to Allah.

LA ILAHA ILLALLAH
This expression is the most important one in Islam. It is the creed that every person has to say to be considered a Muslim. It is part of the first pillar of Islam. The meaning of which is: ” There is no lord worthy of worship except Allah.”

The second part of this first pillar is to say: “Mohammedan Rasul Allah,” which means:”Muhammad is the messenger of Allah.”

M

MA SHA’ ALLAH

This is an expression that Muslims say whenever they are excited and surprised. When they wish to express their happiness, they use such an expression. The meaning of “Ma sha’ Allah” is: “Whatever Allah wants.” or “Whatever Allah wants to give, He gives.” This means that whenever Allah gives something good to someone, blesses him, honors him, and opens the door of success in business, a Muslim says this statement of “Ma Sha’ Allah.”

It has become a tradition that whenever a person constructs a building, a house, or an office, he puts a plaque on the wall or the entrance with this statement. It is a sign of thanks and appreciation from the person to Almighty Allah for whatever he was blessed with.

MUHAMMADUN RASULULLAH
This statement is the second part of the first pillar of Islam. The meaning of this part is that Prophet Muhammad is the last and final prophet and messenger of Allah to mankind. He is the culmination, summation, purification of the previous prophets of Allah to humanity.

P

P.B.U.H.

These letters are abbreviations for the words Peace Be Upon Him which are the meaning of the Arabic expression ” ‘Alaihis Salam”, which is an expression that is said when the name of a prophet is mentioned.

This expression is widely used by English speaking Muslims. It is to be noticed here that this expression does not give the full meaning of “Salla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam”. Therefore it is recommended that people do not use (p.b.u.h.) after the name of prophet Muhammad (s.a.w.); they should use “Salla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam” instead, or they may use the abbreviated form of (s.a.w) in writing.

R

RADHIALLAHU ‘ANHU

This is an expression to be used by Muslims whenever a name of a companion of the Prophet Muhammad (s.a.w.) is mentioned or used in writing. The meaning of this statement is: “May Allah be pleased with him.”

Muslims are taught to be respectful to the elderly and to those who contributed to the spread and success in Islam. They are to be grateful to the companions of the prophet (s.a.w.) for their sacrifices, their leadership, and their contributions. Muslims are advised to use this phrase when such names are mentioned or written.

S

SADAQALLAHUL ‘ADHEEM

This is a statement of truth that a Muslim says after reading any amount of verses from the Qur’an. The meaning of it is: “Allah says the truth.”

The Qur’an is the exact words of Allah in verbatim. When Allah speaks, He says the truth; and when the Qur’an is being recited, a Muslim is reciting the words of truth of Allah. Hence, he says: “Sadaqallahul ‘Azim.”

SALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
When the name of Prophet Muhammad (saw) is mentioned or written, a Muslim is to respect him and invoke this statement of peace upon him. The meaning of it is: “May the blessings and the peace of Allah be upon him (Muhammad).

Another expression that is alternatively used is: “Alaihissalatu Wassalam.” This expression means: “On Him (Muhammad) are the blessings and the peace of Allah.”

Allah has ordered Muslims, in the Qur’an, to say such an expression. Muslims are informed that if they proclaim such a statement once, Allah will reward them ten times.

S.A.W. These letters are abbreviations for the words “Salla Allahu ‘Alaihi Wa Sallam”.

SUBHANAHU WA TA’ALA
This is an expression that Muslims use whenever the name of Allah is pronounced or written. The meaning of this expression is: “Allah is pure of having partners and He is exalted from having a son.”

Muslims believe that Allah is the only God, the Creator of the Universe. He does not have partners or children. Sometimes Muslims use other expressions when the name of Allah is written or pronounced. Some of which are: “‘Azza Wa Jall”: He is the Mighty and the Majestic; “Jalla Jalaluh”: He is the exalted Majestic.

S.W.T. These letters are abbreviations for the words of “Subhanahu Wa Ta’ala”.

W

WA ‘ALAIKUM ASSALAM

This is an expression that a Muslim is to say as an answer for the greeting. When a person greets another with a salutation of peace, the answer for the greeting is an answer of peace. The meaning of this statement is: “And upon you is the peace.” The other expressions are: ” Wa Alaikums Salam Wa Rahmatullah.” and “Wa ‘Alaikums Salam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.”

Di ambil dari website : Every Muslim should remember these essential expressions.

Tuesday, 17 August 2010

Cabaran seorang muslim (2)

Tajuk ini merupakan siri ke-2 mengenai cabaran seorang penganut agama Islam. Saya terpanggil untuk menulis berkenaan hal ini kerana terlalu banyak perintah-perintah Allah di dalam Al-Quran yang dikhususkan kepada orang Islam.

Sememangnya tanggungjawab kita dalam kehidupan memang terlalu banyak. Antaranya tanggugjawab sebagai suami, isteri, anak, pelajar, ibu, bapa, CEO, pegawai, guru, polis, pemimpin, jurutera, menteri dan lain-lain lagi. Manusia memang tidak dapat lari dari tanggungjawab. Namun kita sering lupa akan tanggungjawab kita yang utama, iaitu tanggungjawab sebagai seorang muslim.

Tanggungjawab seorang muslim

Di dalam Surah Al-E-Imran, Allah menjelaskan dengan firmannya yang bermaksud:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. (102)

Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang Neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliah), lalu Allah selamatkan kamu dari Neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keteranganNya, supaya kamu mendapat petunjuk hidayatNya. (103)

Dan hendaklah ada di antara kamu satu puak yang menyeru (berdakwah) kepada kebajikan (mengembangkan Islam) dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji) dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya. (Surah Al-E-Imran 104)

Ganjaran seseorang yang beriman dan balasan seseorang yang kufur

(Ingatlah akan) hari (kiamat yang padanya) ada muka (orang-orang) menjadi putih berseri dan ada muka (orang-orang) menjadi hitam legam. Adapun orang-orang yang telah hitam legam mukanya, (mereka akan ditanya secara menempelak): Patutkah kamu kufur ingkar sesudah kamu beriman? Oleh itu rasalah azab seksa Neraka disebabkan kekufuran kamu itu. (Surah Al-E-Imran 106)

Adapun orang-orang yang telah putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam limpah rahmat Allah (Syurga), mereka kekal di dalamnya. (Surah Al-E-Imran 107)

Ujian buat mukmin dan mukminat

Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: Kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga). (Surah Al-E-Imran 14)

Demi sesungguhnya, kamu akan diuji pada harta benda dan diri kamu dan demi sesungguhnya, kamu akan mendengar dari orang-orang yang telah diberikan Kitab dahulu daripada kamu dan orang-orang yang musyrik: Banyak (tuduhan-tuduhan dan cacian) yang menyakitkan hati. Dalam pada itu jika kamu bersabar dan bertakwa maka sesungguhnya yang demikian itu adalah dari perkara-perkara yang dikehendaki diambil berat (melakukannya). (Surah Al-E-Imran 186)

Sunday, 13 June 2010

Cabaran bersedekah dan syarat-syaratnya

Isu yang akan disentuh kali ini ialah isu berkaitan dengan sedekah. Dalam pada saya mendengar makna ayat-ayat surah Al-Baqarah juzuk ke tiga yang dibaca oleh suami, terlintas di hati saya untuk berkongsikan syarat-syarat dan perintah-perintah Allah dalam kita bersedekah. Makna ayat-ayat yang dibaca bermula dari ayat 261 hingga ayat 274 sememangnya amat indah sekali. Subhanallah...

Bermula dari ayat 261, maknanya...

261 : Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.

262 : Orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan (agama) Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka belanjakan itu dengan perkataan membangkit-bangkit (pemberiannya) dan tidak pula menyinggung atau menyakiti (pihak yang diberi), mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka dan tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka dan mereka pula tidak akan berdukacita.

263 : (Menolak peminta-peminta sedekah) dengan perkataan yang baik dan memaafkan (kesilapan mereka) adalah lebih baik daripada sedekah (pemberian) yang diiringi (dengan perbuatan atau perkataan yang) menyakitkan hati dan (ingatlah), Allah Maha Kaya, lagi Maha Penyabar

264 : Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rosakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rosaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya kerana hendak menunjuk-nunjuk kepada manusia (riak) dan dia pula tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat. Maka bandingan orang itu ialah seperti batu licin yang ada tanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ditinggalkannya bersih licin (tidak bertanah lagi). (Demikianlah juga halnya orang-orang yang kafir dan riak itu) mereka tidak akan mendapat sesuatu (pahala) pun dari apa yang mereka usahakan dan (ingatlah), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

265 : Dan bandingan orang-orang yang membelanjakan hartanya kerana mencari keredaan Allah dan kerana meneguhkan (iman dan perasaan ikhlas) yang timbul dari jiwa mereka, adalah seperti sebuah kebun di tempat yang tinggi, yang ditimpa hujan lebat, lalu mengeluarkan hasilnya dua kali ganda. Kalau ia tidak ditimpa hujan lebat maka hujan renyai-renyai pun (cukup untuk menyiraminya) dan (ingatlah), Allah sentiasa Melihat akan apa yang kamu lakukan.

266 : Adakah seseorang di antara kamu suka mempunyai sebuah kebun dari pokok tamar (kurma) dan anggur, yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, dia juga mempunyai dalam kebun itu segala jenis buah-buahan, sedang dia sudah tua dan mempunyai banyak anak cucu yang masih kecil, lalu kebun itu diserang oleh angin taufan yang membawa api sehingga terbakarlah ia? Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu keterangan-keterangan, supaya kamu berfikir (dan mengambil iktibar)

267 : Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji

268 : Syaitan itu menjanjikan (menakut-nakutkan) kamu dengan kemiskinan dan kepapaan (jika kamu bersedekah atau menderma) dan dia menyuruh kamu melakukan perbuatan yang keji (bersifat bakhil kedekut); sedang Allah menjanjikan kamu (dengan) keampunan daripadaNya serta kelebihan kurniaNya dan (ingatlah), Allah Maha Luas limpah rahmatNya, lagi sentiasa Meliputi PengetahuanNya. (268) Allah memberikan Hikmat kebijaksanaan (ilmu yang berguna) kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan yang ditentukanNya) dan sesiapa yang diberikan hikmat itu maka sesungguhnya dia telah diberikan kebaikan yang banyak. Dan tiadalah yang dapat mengambil pengajaran (dan peringatan) melainkan orang-orang yang menggunakan akal fikirannya.

269 : Allah memberikan Hikmat kebijaksanaan (ilmu yang berguna) kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan yang ditentukanNya) dan sesiapa yang diberikan hikmat itu maka sesungguhnya dia telah diberikan kebaikan yang banyak. Dan tiadalah yang dapat mengambil pengajaran (dan peringatan) melainkan orang-orang yang menggunakan akal fikirannya.

270 : Dan (ketahuilah), apa sahaja yang kamu belanjakan (dermakan) atau apa sahaja yang kamu nazarkan maka sesungguhnya Allah mengetahuiNya dan (ingatlah), orang-orang yang zalim itu tidak ada sesiapa pun yang dapat menolongnya.

271 : Kalau kamu zahirkan sedekah-sedekah itu (secara terang), maka yang demikian adalah baik (kerana menjadi contoh yang baik) dan kalau pula kamu sembunyikan sedekah-sedekah itu serta kamu berikan kepada orang-orang fakir miskin, maka itu adalah baik bagi kamu dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebahagian dari kesalahan-kesalahan kamu dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui secara mendalam akan apa yang kamu lakukan.

272 : Tidaklah engkau diwajibkan (wahai Muhammad) menjadikan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk (kerana kewajipanmu hanya menyampaikan petunjuk), akan tetapi Allah jualah yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya) dan apa jua harta yang halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah dan apa jua yang kamu dermakan dari harta yang halal, akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan.

273 : (Pemberian sedekah itu) ialah bagi orang-orang fakir miskin yang telah menentukan dirinya (dengan menjalankan khidmat atau berjuang) pada jalan Allah (membela Islam), yang tidak berupaya mengembara di muka bumi (untuk berniaga dan sebagainya); mereka itu disangka: Orang kaya oleh orang yang tidak mengetahui halnya, kerana mereka menahan diri daripada meminta-minta. Engkau kenal mereka dengan (melihat) sifat-sifat dan keadaan masing-masing, mereka tidak meminta kepada orang ramai dengan mendesak-desak dan (ketahuilah), apa jua yang kamu belanjakan dari harta yang halal maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahuinya.

274 : Orang-orang yang membelanjakan (mendermakan) hartanya pada waktu malam dan siang, dengan cara sulit atau terbuka, maka mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka dan tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, serta mereka pula tidak akan berdukacita.

Saudara saudari sekelian, ayat-ayat Allah di atas cukup lengkap menerangkan procedure-procedure bersedekah dari segi Islam. Tiada penambahan penulisan yang perlu ditambah oleh penulis. Semuanya jelas dan terang. Moga ianya akan dijadikan panduan kepada kita untuk memberi sedekah baik dalam bentuk wang, tenaga dan kata-kata. Dan akhir kata, semudah-mudah sedekah itu ialah dengan memberi senyuman.

Saturday, 27 February 2010

Cabaran seorang muslim

Islam yang syumul. Islam mampu memberikan kita pentunjuk, panduan atau 'guidance' dalam setiap perkara yang kita lakukan. Seperti firman Allah yang menyatakan

"Kami tidak tinggal apapun semua prinsip-prinsip yang kamu perlukan ada dinyatakan di dalam Al-Qur'an"

Hayati klip video ini...



Islam bukan paksaan

Tiada paksaan di dalam mengajak rakan-rakan bukan Islam untuk menganut agama Islam. Buat rakan-rakan bukan Islam, tanggapan bahawa umat Islam memaksa kamu menganut Islam itu tidak benar. Kami hanya menyampaikan sesuatu yang menjadi amanah kepada kami dari Allah. Kami hanya ingin memberitahu hukum-hukum Allah yang patut dijadikan panduan dalam kehidupan kita mentadbir dunia ini. Kami sendiri tetap bermohon setiap hari kepada Allah agak tunjukkan kami jalan yang benar dan lurus jalan yang Allah redhai.

Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 256 yang bermaksud:

"Tidak ada paksaan dalam agama (Islam) kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut dan dia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui."

Tetapi, Allah menyuruh kita supaya berdakwah (secara berhemah) agar dapat membawa orang-orang bukan Islam ini untuk memahami konsep Islam yang sebenar.

Berdakwah untuk Islam

Sebagai seorang muslim, keislaman yang kita miliki bukan hanya perlu untuk diri individu itu, anak-anak dan keluarga, tetapi kita dituntut untuk menyebarkan Islam kepada orang-orang bukan Islam sebelum mata terpejam, sebelum kiamat menjelma. Firman Allah Surah Al-Baqarah ayat 254 menyatakan,

"Wahai orang-orang yang beriman! Sebarkanlah sebahagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kamu, sebelum tibanya hari (kiamat) yang tidak ada jual beli padanya dan tidak ada kawan teman (yang memberi manfaat), serta tidak ada pula pertolongan syafaat. Dan orang-orang kafir, mereka itulah orang-orang yang zalim."

Hanya kepadaMu Allah tempatku berlindung

Sebagai seorang yang menjadikan Islam sebagai anutan, kepercayaan kepada Allah yang satu perlu menjadi keutamaan. Allah pecipta sekelian alam. Ayat kursi (ayat 255 surah Al-Baqarah) mengandungi makna yang begitu indah tentang Allah. Di sini saya berikan makna Ayatul Kursi ini. Mudah-mudahan ianya menjadikan kita lebih beriman kepada Allah swt.

Ayat Kursi dan maknanya,

Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan (sekalian makhlukNya). Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisiNya melainkan dengan izinNya. Yang Mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari (kandungan) ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki (memberitahu kepadanya). Luasnya Kursi Allah (ilmuNya dan kekuasaanNya) meliputi langit dan bumi dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya).

Al-Quran panduan hidup

Allah telah menjelaskan bahawa Al-Quran mengandungi semua peraturan yang patut dipatuhi oleh sekelian manusia.

(Al-Quran) ini ialah penerangan kepada seluruh umat manusia dan petunjuk serta pengajaran bagi orang-orang yang (hendak) bertakwa. (Surah Al-E-Imran : 138)

Hayati isi kandungan Surah Al-E-Imran bermula dari ayat pertama hingga ke lapan.

Alif, Laam, Miim. (1)

Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Tetap Hidup, Yang Kekal selama-lamanya mentadbirkan sekalian makhlukNya. (2)

Dia menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab Suci (Al-Quran) dengan mengandungi kebenaran, yang mengesahkan isi Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripadanya dan Dia juga yang menurunkan Kitab-kitab Taurat dan Injil. (3)

Sebelum (Al-Quran diturunkan), menjadi petunjuk bagi umat manusia dan Dia juga yang menurunkan Al-Furqan (yang membezakan antara yang benar dengan yang salah). Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah itu, bagi mereka azab seksa yang amat berat dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi berhak membalas dengan azab seksa (kepada golongan yang bersalah). (4)

Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi kepadaNya sesuatu pun yang ada di bumi dan juga yang ada di langit. (5)

Dialah yang membentuk rupa kamu dalam rahim (ibu kamu) sebagaimana yang dikehendakiNya. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. (6)

Dialah yang menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab Suci Al-Quran. Sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat "Muhkamaat" (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran dan yang lain lagi ialah ayat-ayat "Mutasyaabihaat" (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Oleh sebab itu (timbullah faham yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut yang disukainya). Padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu agama, berkata: Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang berfikiran. (7)

(Mereka berdoa dengan berkata): Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau memesongkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan kurniakanlah kepada kami limpah rahmat dari sisiMu; sesungguhnya Engkau jualah Tuhan Yang melimpah-limpah pemberianNya. (8)

Al-Quran merupakan kitab suci yang patut dibaca selalu dan difahami maknanya. Ia mengadungi kisah-kisah nabi dan juga kisah-kisah orang yang ingkar dengan perintah Allah. Oleh itu, baca dan fahamilah isi kandungan Al-Quran serta jadikan ia sebagai panduan dan pengajaran dalam kehidupan.

Monday, 25 May 2009

Cabaran mencari teman

Bagaimana agaknya mencari teman sejati? Teman yang very suppotive dan dalam pada yang sama sentiasa mengajak kita mendekatkan diri kepada Allah swt.

Firman Allah SWT yang bermaksud :

“Teman-teman pada masa itu setengah dengan setengah yang lain adalah musuh melainkan yang bertakwa.” ( Surah al-Zukhruf ayat 67 )

Firman-NYA juga yang bermaksud :

“Aduhai, kiranya aku tidak menjadikan si pulan itu sebagai teman, sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Quran, selepas aku didatangi olehnya. Dan sesungguhnya syaitan mendustai manusia.” ( Surah al-Furqan ayat 28 )

Firman Allah lagi dalam Surah Al-E-Imran ayat ke 28 yang bermaksud :

"Janganlah orang-orang yang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang yang beriman dan sesiapa yang melakukan (larangan) yang demikian maka tiadalah dia (mendapat perlindungan) dari Allah dalam sesuatu apapun, kecuali kamu hendak menjaga diri daripada sesuatu bahaya yang ditakuti dari pihak mereka (yang kafir itu) dan Allah perintahkan supaya kamu beringat-ingat terhadap kekuasaan diriNya (menyeksa kamu) dan kepada Allah jualah tempat kembali."

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud :

“Diumpamakan rakan yang soleh dan rakan yang jahat ialah seperti (berkawan) dengan penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi tidak akan mensia-siakan anda, sama ada anda membelinya atau hanya mendapat bau harumannya. Tukang besi pula boleh menyebabkan rumah anda atau baju anda terbakar, atau mendapat bau busuk.” ( Hadis riwayat Bukhari )

Juga, sabda baginda SAW yang bermaksud :

“Janganlah kamu saling putus-memutus hubungan, janganlah kamu saling berpaling tadah, janganlah kamu saling benci-membenci, janganlah kamu saling berhasad dengki. Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang muslim berpaling dari saudaranya lebih dari tiga hari”. ( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim )

Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah dengan kurniaan teman dan sahabt yang banyak memahami dan menyokong, yang menyuntik kata-kata semangat dikala jatuh, yang ikhlas menasihati dan menyayangi diri ini seperti mereka menyayangi diri mereka sendiri. Moga Allah memberkati kamu semua.

Teman Sejati
Petikan lagu Brothers

Selama ini
Kumencri-cari
Teman yang sejati
Buat menemani
Perjuangan suci

Bersyukur kini
PadaMu Illahi
Teman yang dicari
Selama ini
Telah kutemui

Dengannya di sisi
Perjuangan ini
Senang diharungi
Bertambah murni
Kasih Illahi
KepadaMu Allah
Kupanjatkan doa
Agar berkekalan
Kasih sayang kita

Kepadamu teman
Ku pohon sokongan
Pengorbanan dan pengertian
Telah kuungkapkan
Segala-galanya...

KepadaMu Allah
Kupohon restu
Agar kita kekal bersatu
Kepadamu teman
Teruskan perjuangan
Pengorbanan dan kesetiaan
Telah kuungkapkan
Segala-galanya
Itulah tandanya
Kejujuran kita

Sebagai seorang manusia, kita sememangnya tidak dapat lari dari melakukan kesilapan. Bagi diri saya yang agak sensitif, seringkali tewas dengan godaan Syaitan yang menyuruh kita ber prasangka, bersikap negatif dan sikap-sikap mazmumah. Terdetik di hati ini, adakah diri saya yang terlalu sensitif atau mereka yang silap? Pada diri saya, rakan-rakan boleh mmepengaruhi kehidupan saya. Kawan boleh membuatkan saya gembira dan kawan boleh membuatkan saya sedih dan tertekan. Dilema yang tidak dapat dielakkan sejak kecil, remaja, dewasa dan kini bergelar ibu.

Jika kecil, kita masih dengan sikap kebudak-budakan atau childish.
Jika remaja, bersaing dengan kawan dalam pelajaran. Lebih kepada sikap berlumba-lumba.
Jika dewasa, berhadapan dengan sikap kawan-kawan di tempat kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Kawan
Petikan lagu Hijazz
Kawan apalah yang kau kesalkan
Kerana Tuhan kau kehilangan kawan
Kerana kebenaran dihina
Jangan kau ragu dalam keimanan

Kadang-kadang kawan jadi lawan
Kadang-kadang lawan jadi kawan
Apalah disedihkan hati
Setiap insan di dalam kekurangan

Jangan sedih selalu tersisih
Bukan kau saja ditimpa malang
Ingatlah para Rasul mulia
Lebih terseksa menderita
Mereka bahagia dalam derita
Mereka kaya di dalam papa

Mereka memadai dengan Tuhannya
Itulah kebahagiaan
Di waktu sempit seorang diri
Kawan janganlah disedihkan hatimu

Tetapi mereka merasai ramai
Walaupun keseorangan

"Ya Allah, dekatkan daku dengan teman yang mengajakku ke arah kebaikan di dunia dan di akhirat. Jauhkan daku dari maksiat dan perbuatan yang keji seperi mengumpat, memfitnah dan sifat-sifat buruk dalam pergaulan. Lindungilah hambamu yang kerdil ini. Ameen"